Feb
24
|
Thursday, February 26, 2009 7.30 pm GoetheHaus Jl. Sam Ratulangi 9-15 Jakarta Pusat |
Performers:
- Ligro Trio : Hendy of GIGI (drum), Adi Dharmawan (bass), Agam Hamzah(guitar)
- Donny Suhendra Project : Donny Suhendra (guitar), Demas Narawangsa (drum), Kristian Dharma (bass), Samuel (keyboard)
(Ticket Devi 08158811760)
Sebagai budaya yang lahir di abad 20 – awalnya, jazz terbentuk dari beragam kultur masyarakat yang mempersatukan manusia tanpa batas ras, golongan, etnik di Amerika dan dikenal di seluruh dunia sebagai bentuk kebebasan berfikir dan berkreasi.
(via Goethe Institute, Jakarta)
Musik jazz masuk Indonesia sejak tahun 1920-an. Dikenal dan berkembang melalui pergaulan antargenerasi musisinya. Uniknya, jazz mampu merangsang budaya di mana ia berada untuk berasimilasi, tumbuh dan berkembang seperti yang terjadi di seluruh dunia.
Negara Jerman sebagai salah satu negara di Eropa di mana jazz lama digauli, tumbuh dan berkembang dengan mengasimilasi akar budaya musik. Sehingga muncul istilah musik ECM – yang berasal dari sebuah perusahaan rekaman musik - yang melahirkan generasi musisi baru dan besar sumbangsihnya pada perkembangan musik jazz di Eropa dan dunia. Hal demikian terjadi juga di Indonesia. Meski belum banyak, tapi kesadaran itu mulai dikenal dan tumbuh.
Indonesia dan Jerman mempunyai pertalian sejarah musik jazz sejak pertengahan 1960-an. Saat itu kritikus jazz Jerman Joachim Ernst Berendt bertandang ke Jakarta dan bertemu dengan Sujoso Karsono, pemilik perusahaan rekaman Irama. Berendt lalu diperkenalkan dengan Jack Lesmana dan Bubi Chen. Sebelumnya Berendt telah mendengar nama kedua dedengkot jazz tersebut melalui Tony Scott, seorang peniup klarinet jazz Amerika Serikat yang pernah berkunjung ke Indonesia.
Joachim Ernst Berendt tertarik melihat musikalitas pemusik jazz Indonesia dan mengusulkan kelompok Indonesia All Stars tampil di Berlin Jazz Festival. Bahkan ketika di Jerman selama 2 hari kelompok Indonesian All Stars yang didukung Jack Lesmana (gitar), Maryono (seruling,saxophone), Bubi Chen (piano, zither), Jopie Chen (bass) dan Benny Mustafa van Diest (drums) serta Tony Scott (klarinet) membuat rekaman di Saba Studio pada tanggal 27 dan 28 Oktober 1967. Album Tony Scott with The Indonesia All Stars tersebut lalu diberi judul “Djanger Bali”.
Adalah hal baik bagi Indonesia yang luas, kaya keseniannya dan memiliki sejumlah musisi baik dan berbakat untuk menimba pengalaman dan ilmu serta hubungan baik dengan musisi Jerman.
Salah satu cara adalah menjembatani para pelaku, penikmat dan hubungan keduanya di dalam satu wadah yang terkonsentrasi agar daya serap terhadap musik jazz dan perkembangannya dapat berjalan dengan baik.
Keutamaan progam Serambi Jazz adalah memelihara ketrampilan dan kreativitas musisinya – agar dapat berkembang dan memberikan suguhan kreasi yang dapat dipetik manfaatnya oleh masyarakat. Melalui hubungan yang ada dengan rekan musisi Jerman – Serambi jazz menjadi ajang dan sarana berbagi disamping menggali lagi pengalaman dan hubungan yang pernah dimulai pada masa lalu, akan membuka harapan dan tekad untuk saling menghargai, menjaga, belajar dan bekerjasama.
Riza Arshad
Jakarta, Februari 2009
Tags: Arts
Comments
One Response to “Serambi Jazz with ‘Ligro Trio’ and the ‘Donny Suhendra Project’”
Tell me what you're thinking...
and oh, if you want a picture and not a monster to show with your comment, go get a gravatar!






[...] Donny Suhendra @ Serambi Jazz [...]